Melihat Perjalanan Rupiah Sepanjang 2016




forexbatam.com – Perekonomian Indonesia tahun ini terbilang cukup kondusif di tengah ketidakpastian global.



Berbagai indikator makro seperti produk domestik bruto tumbuh cukup akseleratif dibandingkan tahun lalu, dengan indeks harga konsumen yang dapat dikelola di bawah 3,5 persen.

Perbaikan ekonomi ini juga tak lepas dari membaiknya harga sejumlah komoditas seperti batubara dan nikel. Tak heran fundamental ekonomi yang menunjukkan perbaikan ditambah membaiknya harga komoditas itu mampu mendorong penguatan rupiah.

Program pengampunan pajak atau amnesti pajak juga memberikan sentimen positif pasar menginjak semester kedua. Meskipun, masih ada beberapa faktor eksternal yang menahan penguatan rupiah sepanjang tahun 2016 diantaranya keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa, serta terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Mengacu data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada 1 Januari berada di level 13.830, setelah pada penghujung 2015 ditutup di level 13.788. Pada 20 Januari yang ada di level 13.964.

Namun memasuki Februari hingga pertengahan Maret, nilai tukar rupiah berangsur-angsur mengalami apresiasi. Rupiah sempat menyentuh level tertinggi pada 10 Maret di 13.052. Lantas, dari pertengahan Maret sampai pertengahan Mei nilai tukar rupiah berfluktuasi terbatas di bawah level 13.350.

Pada tanggal 16 Mei, rupiah berada di level 13.310. Akan tetapi hanya dalam waktu empat hari saja, kurs melorot menyentuh 13.608 pada 20 Mei. Sejumlah analis menyebut, aksi ambil untung menekan kurs rupiah saat itu. Sehingga, pada akhir bulan Mei mata uang garuda bertengger di level 13.648.

Memasuki bulan Juni nilai tukar rupiah kembali menguat namun ada sedikit penurunan pada pertengahan bulan dan di minggu ketiga. Pada bulan ini, dunia tengah menanti hasil referendum Inggris Raya.

Merespons hasil referendum yang dimenangkan oleh kelompok “keluar”, pada 24 Juni nilai tukar rupiah di pasar spot berada di level 13.391 atau terdepresiasi 1,09 persen dari perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level 13.248.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo saat itu mengatakan, pasar merespons hasil referendum karena adanya potensi flight to quality, di mana dana-dana dialihkan ke negara-negara yang dinilai lebih stabil, seperti Amerika Serikat dan Jepang.

“Tetapi secara umum kondisi ekonomi Indonesia baik. Sehingga, kami melihat ini sifatnya temporer,” kata Agus pada Jumat (24/6/2016).

Benar saja, sejak Juni hingga akhir September rupiah berangsur-angsur mengalami penguatan. Hingga per 30 September yang mana merupakan batas akhir termin pertama program amnesti pajak, rupiah menguat kencang di level 13.042.

Keyakinan pasar terhadap kesuksesan program amnesti pajak RI yang mencetak sejarah berhasil mendorong penguatan rupiah. Hingga termin pertama berakhir, uang tebusan yang masuk mencapai lebih dari Rp 90 triliun.

Sementara itu, dana deklarasi baik dalam maupun luar negeri mencapai di atas Rp 3.000 triliun. Program amnesti pajak periode pertama juga berhasil menambah jumlah wajib pajak sebanyak 26.746 orang, yang pastinya dapat memperbaiki basis data perpajakan.

Akan tetapi menurut Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih, faktor penguatan harga komoditas lebih banyak berpengaruh.

Usai euforia kesuksesan amnesti pajak termin pertama, penguatan nilai tukar rupiah berlanjut selama sebulan penuh hingga menyentuh 12.972 pada 29 Oktober.

“Penguatan terutama kalau kita lihat terlihat sekali pada September-Oktober itu karena harga komoditas. Kenaikan harga komoditas membantu negara-negara yang mata uangnya terkait komoditas, termasuk rupiah,” kata Lana kepada kompas.com, Rabu (14/12/2016).

Sayangnya, lagi-lagi terimbas faktor eksternal, sejak 31 Oktober rupiah terus mengalami tekanan, hingga 30 November mencapai 13.555. Pemilihan Presiden Amerika Serikat yang dimenangkan kandidat dari Partai Republik, Donald Trump memberikan efek pelemahan.

“dollar AS menguat lebih besar karena isu the Fed dan Trump. Jadi setiap kali habis Pemilu sampai tiga bulan, pasar mereka memang cenderung euforia. Dollar menguat, pasar sahamnya meningkat,” kata Lana.

Menurut perhitungannya, kurs rupiah sejak awal tahun hingga 31 Oktober menguat 5,67 persen.

Namun, sejak 1 November hingga 14 Desember, terdampak efek Trump, nilai tukar rupiah mengalami depreiasi 1,8 persen.

Bank sentral sendiri tak tinggal diam, yakni dengan melakukan intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi. Akibatnya, cadangan devisa pun sedikit tergerus dari 115 miliar dollar AS pada Oktober, menjadi 111,5 miliar dollar AS pada November.

Tetapi menginjak bulan Desember, rupiah kembali terdorong sentimen positif dan menguat hingga per 14 Desember di level 13.294.

“Sehingga dari awal tahun sampai 14 Desember rupiah masih menguat sedikit 3,8 persen,” kata Lana.

Rupiah baru mengalami sedikit pelemahan 0,68 persen setelah diumumkannya penaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, sehingga posisi 15 Desember berada di level 13.384.

Namun Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, Kamis (15/12/2016) menyatakan, pemerintah optimistis nilai tukar rupiah akan terus membaik seiring dengan masuknya dana-dana repatriasi tax amnesty.


sumber: kompas.com


Berlangganan Melalui Email

Silahkan masukan email anda disini
Back to top